Desember 2024

Dalam menyikapi tantangan di era digital, prinsip “ramah anak” harus menjadi ruh dalam pengelolaan pesantren. Pesantren ramah anak tidak hanya berarti pesantren yang menjaga fisik anak-anak, tetapi juga pesantren yang dapat memberikan pendidikan berbasis kasih sayang. Santri harus merasa dihargai, didengar, dan dibimbing dengan cara yang baik, sesuai dengan ajaran Rasulullah yang penuh kelembutan terhadap anak-anak.

“Lalu mengembangkan karakter dan akhlak mulia. Pesantren harus menjadi tempat di mana anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang jujur, tangguh, dan beriman.
Mampu melindungi dari kekerasan. Baik kekerasan fisik, verbal, maupun kekerasan digital (seperti perundungan daring).
Dan memfasilitasi kreativitas dan bakat mereka, pesantren juga harus menciptakan lingkungan yang mendukung potensi setiap para santri,” ujarnya.

Untuk mewujudkan pesantren ramah anak di era digital, diperlukan upaya strategis yang komprehensif. Beberapa langkah yang dapat kita tempuh, antara lain:

Pemanfaatan Teknologi Secara Positif. Teknologi harus menjadi alat untuk mendukung pendidikan Islam, bukan menjadi ancaman. Pesantren dapat memanfaatkan platform digital untuk pembelajaran daring, dakwah interaktif, dan pengembangan literasi digital santri.

Peningkatan Kapasitas Pengasuh dan Guru. Para kiai, ustaz, dan pembina harus dibekali dengan kemampuan memahami psikologi anak, keterampilan komunikasi, serta wawasan tentang risiko dan peluang teknologi.

Kemitraan dengan Berbagai Pihak. Pesantren tidak bisa bekerja sendirian. Kita perlu bermitra dengan pemerintah, organisasi masyarakat, dan dunia usaha untuk menciptakan program-program yang mendukung pesantren ramah anak.

Membangun Sistem Perlindungan Anak. Setiap pesantren harus memiliki kebijakan yang jelas dan tegas dalam mencegah kekerasan serta melindungi hak-hak santri.

“Kita harus sadar bahwa era digital adalah kenyataan yang tidak dapat kita hindari. Oleh karena itu, pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang khas di Indonesia harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Pesantren yang ramah anak bukan hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga menjadi visi besar untuk melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan beriman di tengah perkembangan zaman.